• Prof.Dr.Ir.Roosseno Soerjohadikoesoemo

    Minggu-Pahing, 4 Rajab 1838 dalam almanak Jawa atau 2 Agustus 1908. Seorang bayi lahir di sebuah desa di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, sekitar enam kilometer di timur kota Madiun. Ia lahir dari rahim Raden Rara Endran, puteri bungsu Raden Bagoes Rooeslan. Endran juga seorang cucu Raden Adipati Holland Soemodilogo, bupati kedua Temanggung. Seomodilogo, salah satu tokoh yang ikut berperang dalam Perang Diponegoro 1825.

    Bayi laki-laki itu diberi nama Roosseno. Nama itu diberikan oleh ayahnya, Roostamhadji, seorang patih Ngawi dan Madiun, putera sulung Patih Pacitan, Raden Soemadiwirja. Ayahnya adalah penggemar bunga mawar/roos(bahsa Belanda), makanya ia memberi nama anak-anaknya Rooshore, Rooskandar, Roosmijati, Roosdjenar, Rooseno, dan Roosdiono. Hanya satu yang tidak memakai nama Ross yaitu Imelda Samijati.

    Masuk sekolah dasar di-Ngawi, pada usia 8 tahun ibunya meninggal dunia, selanjutnya meneruskan sekolahnya di Madiun dan Yogyakarta hingga lulus sekolah menengah atas (AMS). Ibu tirinya puteri keraton Yogya dari Keluarga Hamengku Buwono VI, dari situ ia mendapat tambahan nama Suryohadikusumo.

    Pada tahun 1928 melanjutkan kuliahnya di-Technische Hoogeschool te Bandoeng(sekarang-ITB) dan lulus pada bulan Mei 1932. Pada bulan Juli 1932 Ir. Rosseno menikah dengan Raden Ayu Oentari.

    Karier

    Bapak Beton Indonesia, kata Wiratman, memang tepat disandang Roosseno. Sejak ia bekerja di Departement van Verker en Waterstaat (Departemen Jalan dan Pengairan) pada 1935, ia berhasil meyakinkan atasan-atasannya yang Belanda, untuk menggunakan beton bertulang dalam membangun jembatan. Alasannya, semua bahan-bahannya dapat dibeli di Indonesia, sehingga membantu ekonomi rakyat Indonesia.

    Karyannya mulai Hotel Indonesia, Monas, dan Sarinah dipuji-puji. Bukan main,kenang Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup pertama era Orde Baru,Profesor Roosseno membangun Sarinah di atas sebuah sungai purba. Alangkah sulitnya. Ia perlu didukung oleh banyak ahli. Ahli geologi, antropologi, macam-macam. Begitu juga kalau sekiranya dia membangun jembatan Jawa-Sumatera,ujar Emil.

    Pemugaran Borobudur juga masih mempertahankan kondisi candi sampai kini. Roosseno memakai empat prinsip pemugaran yaitu otentisitas mulai bahan, desain, teknik pengerjaan dan setting. Dalam menyambung patung, kata Hubertus Sadirin, mantan manajer konservasi Candi Borobudur, Roosseno sangat hati-hati.

    Menyambung dua lempeng batu, ia memakai teknik sambung ekor burung yaitu dua segi tiga berbentuk ekor burung bertolak belakang, mengunci sebagai potongan ketiga.Hasilnya, restorasi berhasil gemilang,kata Sadiri. Dan kini Candi Borobudur masih kokoh berdiri setelah restorasi usai, 27 tahun silam.

    Ia mengawali karier dengan berwiraswasta di-Bandung-dengan mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan-Soekarno(Presiden pertama RI) di Jalan Banceuy pada tahun-1933. Roosseno kemudian tercatat sebagai seorang di antara pendiri Fakultas Teknik-Universitas Gadjah Mada-di-Yogyakarta.

    Di masa pendudukan Jepang, tanggal 1 April 1944 Roosseno diangkat menjadi Guru Besar(Kyodju)dalam bidang Ilmu Beton di-Bandung Kogyo Daigaku(Sekolah Tinggi Teknik yang didirikan pemerintah pendudukan Jepang di lokasi-TH Bandung-yang ditutup tahun 1942).

    Pada bulan Agustus 1945 (20/27-??) hari Senin di ruang Aula Barat?Bandung Kogyo Daigaku(sekarang-ITB) dilakukan timbang terima-Bandung Kogyo Daigaku-dari bala tentara Jepang kepada Pemerintah Republik Indonesia. Suatu kelompok insinyur Indonesia yang bercita-cita: Soenaryo,Soewandi Notokoesoemo, Abidin, dan Roosseno mengambil alih Kogyo Daigaku dari bala tentara Jepang kepada Republik Indonesia yang baru hidup 1 minggu.Segera sesudah itu perguruan tinggi teknik dibuka kembali dengan nama-Sekolah Tinggi Teknik Bandung(STT Bandung)di bawah pimpinan Prof. Ir. Roosseno.

    Pada bulan November 1945 STT Bandung dipindahkan ke Yogyakarta dengan sebutan-STT Bandung di Yogya, dan atas usaha Ir. Wreksodiningrat pada 17 Februari 1946 dibuka kembali dengan ketua Prof. Ir. R. Roosseno. Roosseno memimpin sekolah tersebut hingga kemudian diganti oleh Prof. Ir. Wreksodiningrat pada tanggal 1 Maret 1947.

    Pada tanggal 26 Maret 1949 ia diangkat menjadi guru besar luar biasa ilmu beton di-Faculteit van Technische Wetenschap-Universiteit van Indonesie te Bandoeng(sejak tahun 1959 menjadi-ITB) ditandai dengan pembacaan orasi ilmiahnya yang berjudul“Vormgeving en minimum materiaalverbruik in gewapend beton”.

    Pada tahun-1948, Rooseno pindah ke-Jakarta-dan mendirikan Kantor Consulting Engineer. Setelah itu ia bergabung dalam-Partai Indonesia Raya-pada tahun 1950-an. Selain itu ia pernah tiga kali menjabat menteri diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, Menteri Perhubungan, dan Menteri Ekonomi. Selama masa itu ia tetap aktif di pendidikan dan menjadi guru besar-ITB-dan Fakultas Teknik-Universitas Indonesia(UI) dan juga sebagai Direktur-Sekolah Tinggi Teknik Nasional(STTN) di Jakarta.

    Selain itu sebagai ahli beton bertulang, Rooseno telah banyak menangani berbagai proyek penting, seperti jembatan, pelabuhan, gedung, dan hotel bertingkat. Ia telah menulis tidak kurang dari 33 karya dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda, dan juga merampungkan autobiografinya. Di kalangan perbetonan internasional, Roosseno menjadi anggota International Association for Bridge and Structural Engineering (IBSE),Zurich-dan Federation International de Precontreinte (FIP).

    Di Indonesia, Roosseno mengetuai Tim Rehabilitasi-Candi Borobudur, Badan Penasihat Teknis Pembangunan (BPTP) DKI dan Gabungan Pelaksana Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi) yang beranggotakan lebih dari 30.000 pemborong.

    Selain itu Rooseno juga menjadi Direktur di tiga perusahaan:Biro Insinyur Exakta NV, Freyssinet Indonesia Ltd dan Biro Oktroi Patent Roosseno. Pemerintah RI menganugerahinya Satya Lencana untuk jasa ikut membangun Kompleks-Asian Games-Senayan(1962). Penghargaan lain adalah Doctor Honoris Causa untuk ilmu teknik yang diterimanya dari ITB (1977) dan-Bintang Mahaputra Utama(1984).

    Dunia teknik mengakui kecerdasan Roosseno. Berbagai tulisan ilmiahnya tersebar dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia. Pada saat ia masuk ke-Technische Hoogeschool te Bandoeng(THB)pada 1928,kini disebut Institut Teknologi Bandung, hanya tiga orang mahasiswa pribumi, selainnya adalah orang Belanda. Waktu itu, ia berumur 20 tahun.Matanya menggambarkan cita-citanya untuk dapat membuat kuda-besi dan jembatan ala kali Madiun,kata Roosseno, menceritakan kisahnya, saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari ITB, 25 Maret 1977.

    Pada November 1937, muncul tulisannya yang terkenal sebagai teori -Syarat tekuk dari Roosseno dalam Majalah-De Ingenieur in Nederlands Indieber-Nomor 11.Roosseno memberikan pemecahan secara grafis untuk mengatasi panjang tekuk tiang, guna menyelesaikan masalah portal jembatan.

    Dari dialah, ilmu beton bertulang, yang dipatenkan insinyur Joseph Monier (Perancis) pada 1867, mulai dikenal di Indonesia. dikenal di Indonesia. Pada 1975, muncul makalahnya Tall Building Foundation in Jakarta,yang mengungkap dua kontribusinya di bidang tiang pancang. Yaitu sambungan tiang pancang sistem Roosseno dan tiang pancang dengan gaya sistem Roosseno.

    Sumber :

    • http://id.wikipedia.org/wiki/Roosseno_Soerjohadikoesoemo
    • http://labib85.wordpress.com/2012/12/11/roosseno-bapak-beton-dari-madiun/
Comments are closed.
Artikel yg terkaitclose